Gejala Dari Penyakit Anjing Gila (Rabies) dan Pencegahannya

Penyakit Anjing Gila (Rabies)

Rabies adalah jangkitan virus pludselig. Rabies terdapat dalam hewan di kebanyakan negara pada seluruh dunia. Kebanyakan kes jangkitan manusia berlaku pada negara-negara membangun.

Penyakit anjing gila atau yang kerap dikenal dengan penyakit Rabies adalah penyakit infeksi akut di dalam susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit anjing gila indonesia mempunyai sifat zoonotik diantaranya penyakit yang dapat ditularkan dari hewan pada orang. penyakit anjing gila ataupun rabies ini bisa menular kepada manusia melalui gigitan.


Asal kata rabies bermula dari bahasa Sansekerta primitif, yaitu rabhas yang maksudnya melakukan kekerasan/kejahatan. Dalam kode Yunani, rabies disebut Lyssa atau Lytaa yang maksudnya kegilaan. Dalam bahasa Jerman, rabies disebut tollwut yang berasal dari bahasa Indojerman Dhvar yang artinya merusak dan wut yang maksudnya marah. Dalam bahasa Prancis, rabies disebut rage bermula dari kata benda robere yang artinya menjadi gila.

Gejala Penyakit Anjing Gila atau Rabies

Gejala rabies biasanya mulai timbul pada waktu 30-50 hari sesudah terinfeksi. Masa inkubasi virus hingga munculnya penyakit ialah 10-14 hari pada anjing tetapi bisa mencapai 8-9 bulan pada manusia. Jika disebabkan oleh gigitan anjing, luka yang memiliki risiko tinggi meliputi infeksi dalam mukosa, luka di arah daerah bahu (kepala, muka, leher), luka pada jari tangan atau kaki, luka pada kelamin, luka yang lebar atau dalam, serta luka yang banyak. Sedangkan luka dengan risiko rendah meliputi jilatan pada kulit yang luka, garukan ataupun lecet, serta luka tipis di sekitar tangan dan kaki.

Gejala sakit yang akan dialami seseorang yang terinfeksi rabies meliputi 4 stadium:
  1. Stadium Prodromal
    Dalam stadium prodomal sakit yang timbul pada penderita tidak khas, menyerupai infeksi virus pada dasarnya yang meliputi demam, sulit makan yang menuju taraf anoreksia, pusing dan pening (nausea), dan lain sebagainya.
  2. Arena Sensoris
    Dalam stadium sensori penderita umumnya akan mendapatkan rasa nyeri pada wilayah luka gigitan, panas, gugup, kebingungan, keluar banyak air liur (hipersalivasi), hiperhidrosis, hiperlakrimasi.
  3. Stadium Eksitasi
    Pada stadium eksitasi penderita menjadi gelisah, mudah kaget, kejang-kejang setiap ada rangsangan dari luar sehingga timbul ketakutan pada udara (aerofobia), ketakutan pada cahaya (fotofobia), dan ketakutan air (hidrofobia). Kejang-kejang terjadi akibat hadirnya gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan serta pernapasan. Hidrofobia yang berlangsung pada penderita rabies terutama karena adanya rasa sakit yang luar biasa pada kala berusaha menelan air.
  4. Stadium Paralitik
    Pada arena paralitik setelah melalui ketiga stadium sebelumnya, penderita memasuki stadium paralitik ini memperlihatkan tanda kelumpuhan dari periode atas tubuh ke bawah yang progresif.

  • Agen penyebab: Virus rabies, sejenis rabdovirus dari genus Lyssavirus
  • Trik jangkitan: Virus rabies memiliki dalam air liur haiwan dan boleh di jangkiti melalui gigitan atau sebarang kejadian yang menembusi kulit seperti jilatan hewan pada tempat luka.
  • Komplikasi: Sukar bernafas sehingga menyebabkan kematian.

Cara Menangani Penyakit Anjing Gila

Bila terinfeksi rabies, segera cari pertolongan medis. Rabies dapat diobati, tetapi harus dilakukan sedini sebelum menginfeksi otak lalu menimbulkan gejala.

langkah-langkah yang harus anda lakukan:
  • Secepat mungkin cuci luka dengan sabun atau pelarut lemak yang lain di bawah air mengalir selama 10-15 menit kemudian beri antiseptik alkohol 70 percent atau betadin.
  • Orang-orang yang belum diimunisasi selama 12 tahun terakhir akan dikasih suntikan tetanus.
  • Orang-orang yang belum pernah mendapat vaksin rabies akan diberikan suntikan globulin imun rabies yang dikombinasikan dengan vaksin. Separuh dari dosisnya disuntikkan pada tempat gigitan dan separuhnya disuntikan ke otot, umumnya di daerah pinggang. Pada periode 28 hari dikasih 5 kali suntikan. Suntikan pertama untuk menentukan risiko adanya virus rabies gara-gara bekas gigitan. Sisa suntikan diberikan pada hari ke 3, 7, 14, serta 28. Kadang-kadang terjadi kesakitan, kemerahan, bengkak,ataupun gatal pada tempat penyuntikan vaksin.

Cara Mencegah Penyakit Anjing Gila

Pencegahan rabies pada manusia harus diterapkan sesegera mungkin setelah adanya gigitan oleh hewan yang berpotensi rabies, karena jika tidak dapat berakibat mematikan.

Tips-tips untuk mencegah rabies dapat diambil sebelum terjangkit virus atau segera setelah terkena gigitan Sebagai contoh, vaksinasi bisa diberikan kapada orang-orang yang berisiko tinggi terhadap terjangkitnya virus, yaitu:
  • Dokter hewan.
  • Petugas laboratorium yang menangani hewan-hewan yang terinfeksi.
  • Orang-orang yang menetap atau menghuni lebih dari 30 hari di daerah yang rabies pada anjing banyak ditemukan
  • Para penjelajah war kelelawar.

Vaksinasi idealnya meraih memberikan perlindungan seumur hidup. Tetapi seiring berjalannya masa kadar antibodi akan menurun, sehingga orang yang berisiko tinggi terhadap rabies wajib mendapatkan dosis booster vaksinasi setiap 3 tahun. Pentingnya vaksinasi rabies terhadap hewan peliharaan seperti anjing pun merupakan salah satu teknik pencegahan yang harus diperhatikan.

0 Response to "Gejala Dari Penyakit Anjing Gila (Rabies) dan Pencegahannya"

Posting Komentar